JAMBI dan EMISI KARBON

Berdasarkan hasil kajian McKinsey & Company, Emisi GHG tahunan Jambi bersih pada tahun 2005 diperkirakan mencapai 57 MtCO2e - setara dengan sekitar 3 persen dari total emisi Indonesia. Gambut dan kehutanan sejauh ini adalah kontributor terbesar terhadap emisi Jambi, mewakili 85 persen dari total emisi propinsi terkait. Apabila tidak terdapat perubahan dalam cara pengelolaan sektor-sektor dengan emisi tertinggi, emisi bersih Jambi diperkirakan akan meningkat sampai dengan 30 persen antara tahun 2005 dan 2030 - dari 57 menjadi 74 MtCO2e. Jambi memiliki potensi untuk menurunkan emisi GHGnya sampai dengan sebanyak 69 MtCO2e hingga tahun 2030, dengan perpaduan yang tepat antara kebijakan dalam negeri dan dukungan internasional. Kemungkinan guna penurunan emisi ini, 53 persen mungkin datang dari upaya-upaya terkait konservasi lahan gambut dan 36 persen berasal dari sektor kehutanan.

Lima peluang penurunan karbon mewakili lebih dari 85 persen dari total potensi pengurangan Jambi: (1) Mencegah pembakaran hutan dan lahan gambut; (2) Mengurangi pembabatan hutan melalui kebijakan alokasi lahan yang lebih efektif dan dengan meningkatkan produktivitas pertanian; (3) Merehabilitasi lahan gambut yang tidak digunakan atau yang rusak; (4) Mengelola hutan secara lestari; dan (5) Melakukan reboisasi. Dari total peluang pengurangan yang ada pada tahun 2030, 15 persen dapat dicapai melalui peluang pengurangan yang relatif tidak mahal (kurang dari USD 25 per tCO2e) dan siap dicapai (dengan potensi untuk direalisasi sampai dengan tahun 2015); 55 persen dicapai dengan mengambil peluang yang sedikit lebih mahal atau lebih sulit untuk dicapai (tetapi dengan potensi untuk direalisasi sampai dengan tahun 2020); dan sisanya 30 persen dicapai dengan mengambil peluang yang sangat menantang, yang mahal dan sulit untuk dicapai.

Saat ini Jambi kehilangan 134 megaton karbon dari emisi CO2 per tahun nya, ini didapatkan dari penghitungan Jambi telah kehilangan 438 megaton karbon antara 1990 dan 2002 (Wetlands Internasional, 2003). Hingga saat ini belum ada perkiraan yang pasti emisi CO2 dan berapa banyak lagi karobn yang akan terus hilang karena tutupan hutan di lahan gambut yang semakin berkurang.